Archive for 2014

Enhanced Geothermal Power

Every countries have problems of energy sustainability, this was due to the limited supply of oil and gas. Now, oil and gas are the main energy source in the world so that the energy current depends on the availability of oil and gas. On the other hand, the energy demand is increasing, the main factors are increasing people population and industrial sector. Energy conservation needs to be done to solve the problem, we have to find a replacement energy to achieve national energy sustainability.
Source: http://www.thejakartapost.com/news/2014/04/21/geothermal-power.html 


Geothermal power is the one solution in energy crisis, it’s one of renewable energy, cost effective, reliable, sustainable, and environmentally friendly but has historically been limited to areas near tectonic plate boundaries. Recent technological advances have dramatically expanded the range and size of viable resources, especially for applications such as home heating, opening a potential for widespread exploitation. Geothermal wells release greenhouse gases trapped deep within the earth, but these emissions are much lower per energy unit than those of fossil fuels. As a result, geothermal power has the potential to help mitigate global warming if widely deployed in place of fossil fuels.

In the applying for geothermal energy sources, should have the following parameters: A high temperature (at least 1500 C below ground), A great scent pressure (at least 3.5 atmosphere), Considerable volume of steam (10 tons per hour = 1000 KW electricity), A maximum of 3000 meters well’s depth, and the Steam does not cause rust (pH should be more than 6).

There is no tool to measure directly some parameters in geothermal, it’s not like well logging in oil and gas, which doing one measuring can measure some parameter in petrophysics such as density log, gamma ray log, sonic log, caliper log, resistivity log, neutron log, and many others logging.

Here we offer a tool that can be used to measure temperature, pressure, pH, and concentration of gas in geothermal production. This tool has same concept with wireline logging in oil and gas, but this tool will measure these parameters in the field effectively and efficiently, and even this tool can measure at surface and also in the depth of well.

We would like to make a system using sensors that each of them can sense the parameter above. The sensors they are thermocouple, Taguchi Gas Sensor ( TGS ), vibration sensor, and pH sensor. Thermocouple is used to measure well temperature, Taguchi Gas Sensor ( TGS ) is used to measure concentration of well gas and surface gas which produced from fumarolic and solfataric, The vibration sensor is used to measure well pressure, and the last pH sensor is used to measure pH concentration of well.

Of course, all of the sensors are integrated which controlled by microcontroller in. The microcontroller must process all the data received from the sensors and directly process it. The final output can be seen in the display. The tool we designed may be doable. Considering all of the stuff are widely used in many applications and reasonably priced. This tool might answer the present problem concerning geothermal.

With optimizing of geothermal power can reduce dependence of fossil energy (Oil, Gas, and Coal), reduce greenhouse effect hopefully, can help geothermal development and increasing geothermal production, in the last with existing of this tool can solve energy crisis.

Minggu, 14 Desember 2014
Posted by Arriqo Arfaq

Klasifikasi Lipatan Billing (1986)

Klasifikasi lipatan menurut Billing (1986) di dasarkan pada: Bentuk penampang tegak, Intensitas lipatan, Sifat lipatan dan kedalaman, dan Kedudukan axial surface dan hinge line. Berikut akan dijelaskan lebih rinci terkait klasifikasi lipatan tersebut:

·    A. Berdasarkan bentuk penampang tegak :
  • Lipatan simetri :lipatan dimana axial plane-nya vertikal
  • Lipatan asimetri :lipatan dimana axial plane-nya condong
  • Overturned fold :lipatan dimana axial plane-nya condong dan kedua sayapnya miring ke arah yang sama dan biasanya pada sudut yang berbeda
  • Recumbent fold :lipatan dimana axial plane-nya horizontal
  • Vertical isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya vertical
  • Isoclined isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya condong
  • Recumbent isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya horizontal
  • Chevron fold :lipatan dimana hinge-nya tajam dan menyudut
  • Box fold :lipatan dimana crest-nya luas dan datar
  • Fan fold :lipatan dimana sayapnya membalik
  • Monocline :lipatan dimana kemiringan lapisan secara lokal terjal
  • Structure terrace :lipatan dimana kemiringan lapisan secara lokal dianggap horizontal
  • Homocline :lapisan yang miring dalam satu arah pada sudut yang relatif sama

·        B. Berdasarkan intensitas lipatan :
  • Open fold :lipatan yang lapisannya tidak mengalami penebalan atau penipisan karena deformasi yang lemah
  • Closed fold :lipatan yang lapisannya mengalami penebalan atau penipisan karena deformasi yang kuat
  • Drag fold :lipatan-lipatan kecil yang terbentuk pada sayap-sayap lipatan yang besar akibat terjadinya pergeseran antara lapisan kompeten dengan lapisan tak kompeten
  • En enchelon fold :beberapa lipatan yang sifatnya lokal dan saling overlap satu dengan yang lain
  • Culmination dan depression :lipatan-lipatan yang menunjam pada arah yang berbeda, sehingga terjadi pembubungan dan penurunan
  • Anticlinorium :yaitu antiklin mayor yang tersusun oleh beberapa lipatan yang lebih kecil
  • Synclinorium :yaitu sinklin mayor yang tersusun oleh beberapa lipatan yang lebih kecil

·        C.  Berdasarkan sifat lipatan dan kedalaman :
  • Similar fold :lipatan yang tiap lapisannya lebih tipis pada sayapnya dan lebih tebal pada hinge-nya
  • Paralel/concentric fold :lipatan dengan anggapan bahwa ketebalan lapisan tidak berubah selama perlipatan
  • Pierching/diaphiric fold :lipatan dimana intinya yang aktif telah menerobos melalui batuan diatasnya yang lebih rapuh
  • Supratenuous fold :lipatan yang terbentuk karena adanya perbedaan kompaksi sedimen pada saat pengendapan terjadi di punggung bukit
  • Disharmonic fold :lipatan yang bentuknya tak seragam dari lapisan ke lapisan

·        D.  Berdasarkan kedudukan axial surface dan hinge line :
  • Horizontal normal :lipatan dimana kedudukan axial surface vertikal dan hinge line horizontal
  • Plunging normal :lipatan dimana kedudukan axial surface vertikal dan hinge line menunjam
  • Horizontal inclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line horizontal
  • Plunging inclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line menunjam, tetapi jurus axial plane miring terhadap sumbu lipatan
  • Reclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line menunjam, tetapi jurus axial plane tegak lurus terhadap sumbu lipatan
  • Vertical :lipatan dimana kedudukan axial surface dan hinge line vertical
  • Recumbent :lipatan dimana kedudukan axial surface dan hinge line horizontal



Referensi:
 Harset, D. 2010. 2nd Structure Geology, Klasifikasi lipatan (Billing: 1986) [Internet] tersedia dalam <http://debriadiharset.wordpress.com/2010/03/06/> [Diakses 15 November 2014]
Minggu, 16 November 2014
Posted by Arriqo Arfaq

Keajaiban Bahasa al-Quran

(Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com)

Benar apa yang Allah firmankan di awal al-Quran,
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Itulah al-Kitab (a-Quran), yang tidak ada keraguan di dalamnya. Sebagai petunjuk bagi orang yanng bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 2).
Dalam ayat ini, al-Quran berposisi pada dua sisi,
Pertama, sumber petunjuk bagi orang yang baik, orang yang bertaqwa.
Kedua, menutup semua peluang munculnya hal yang meragukan di dalamnya. Sehingga apapun usaha manusia untuk meragukan al-Quran, tidak akan berhasil.
terkait firman Allah,
مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ
Allah tidak menjadikan dua hati dalam perut seorang laki-laki. (QS. Al-Ahzab: 4)
Yang menjadi pertanyaan, mengapa Allah menyatakan, “dalam perut seorang laki-laki”? dan tidak ‘dalam perut manusia’? apakah ayat ini hanya khusus laki-laki? Bukankah semua manusia hatinya hanya satu? Lalu mengapa hanya disebut laki-laki?
Ada sebuah kisah menarik tentang ayat ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya.
Dalam sebuah kuliah umum, sang dosen muslim menjelaskan keindahan bahasa al-Quran. Kalimat-kalimatnya yang jeli, fasih, sehingga mengandung cakupan makna yang luas. Bahkan andaikan ada satu kata dalam al-Quran, diganti dengan kata yang lain, tentu tidak akan menghasilkan cakupan makna dan tafsir yang benar.
Setelah menyebutkan beberapa contoh, ada seorang mahasiswa berpemikiran liberal berusaha membantah. Dia mulai menyampaikan pendapatnya,
“Ada satu kata dalam al-Quran yang menunjukkan kelemahan sisi bahasa al-Quran. Yaitu firman Allah,
ﻣَّﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﺮَﺟُﻞٍ ﻣِّﻦ ﻗَﻠْﺒَﻴْﻦِ ﻓِﻲ ﺟَﻮْﻓِﻪِ
Allah tidak menjadikan dua hati dalam perut seorang laki-laki. (QS. Al-Ahzab: 4)
Mengapa di situ Allah mengatakan ‘rajul’ (seorang lelaki) dan tidak mengatakan ‘basyar’ (seorang manusia)? Yang namanya manusia, semuanya hanya memiliki satu hati. Baik dia lelaki maupun perempuan.
Seketika itu, suasana kelas terhentak tenang. Semua membenarkan apa yang disampaikan sang penanya. Menunggu apa yang akan dijawab oleh pak dosen.
Anda bisa lihat bagaimana jawaban Pak Dosen, yang menunjukkan kemukjizatan bahasa al-Quran. Namun, semacam ini tidak bisa dipahami semua orang. Hanya mereka yang berusaha merenungkan kandungan maknanya, yang bisa memahami kedalaman dan kejelian diksi dalam al-Quran.
Beliau mengatakan,
“Benar! Laki-laki adalah satu-satunya jenis manusia yang hanya memiliki 1 hati dalam perutnya. Dan tidak mungkin memiliki 2 hati dalam perutnya. Berbeda dengan wanita. Dia bisa memiliki dua hati dalam perutnya.”
“Siapa wanita itu?”
“Wanita hamil. Di dalam perutnya ada seorang janin yang juga memiliki satu hati. Sehingga dalam kondisi hamil, dia memiliki dua hati. Hatinya sendiri dan hati janinya, yang itu ada di dalam tubuhnya.”
Subhanallah…, Allah tidak meninggalkan satu ‘kata’ dalam al-Quran yang memberikan peluang para makhluk-Nya untuk menimbulkan keraguan darinya.
Maha Suci Dzt yang Maha Benar dan Maha Tahu.
Allahu a’lam

Sabtu, 15 November 2014
Posted by Arriqo Arfaq

Ilmu bumi pada masa Rasulullah

Rasulullah Muhammad SAW hidup antara tahun 570 hingga 632, dimana tak seorangpun, baik sebelum beliau, ataupun 12 abad setelahnya, mengetahui apapun gerakan horizontal lithosfer bumi, peranan gunung sebagai stabilisator. Rasulullah bersabda “Tatkala Allah menciptakan bumi, ia bergoyang dan menyentak, lalu Allah menstabilkannya dengan gunung” ( H.R Ahmad ).
Sumber : http://webctfatimah.files.wordpress.com/2010/09/milikfatima4.jpg?w=490

Dan kamu lihat gunung-gunung itu , kamu sangka ia tetap pada tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan, begitulah perbuatan Allah yang membuat kokoh tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al Naml : 88 ). Pemikiran ilmu geologi, atau persepsi dari Al Qur’an dan Hadist, adalah penting untuk memberikan informasi latar belakang yang menggambarkan dimana geologi sekarang dan bagaimana sampai ke kondisi sekarang. Ilmu geologi sebagai ilmu pengetahuan dimulai kurang dari 200 tahun yang lalu. Meskipun adanya berbagai persepsi geologis yang bisa ditelusuri kembali ke Aristoteles lebih dari 2000 tahun yang lalu.
Setidaknya dua kali gempa tercatat dalam riwayat hadits Nabi.Yang pertama di Mekah dan kedua di Madinah. Pertama, Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Kuzaimah, ad-Daruquthni, dan lainnya dari Utsman bin Affan bahawa dia berkata, "Apakah kalian tahu Rasulullah pernah berada di atas Gunung Tsabir di Mekah.Bersama beliau Abu Bakar, Umar dan saya. Tiba-tiba gunung bergoncang hingga bebatuannya berjatuhan. Maka Rasulullah menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Tsabir! Yang ada di atasmu tidak lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang Syahid.”
Kedua, Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata: “Nabi naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba gunung bergoncang. Maka Nabi menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Uhud! Yang ada di atasmu tiada lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid.” Di antara pelajaran besar dalam dua riwayat di atas bahawa ternyata gunung tidak layak bergoncang saat ada 4 manusia terbaik di atasnya. Nabi harus menghentakkan kaki dan mengeluarkan perintah kepada gunung untuk menghentikan guncangan tersebut.
Kemajuan teknologi peralatan canggih yang diperlukan untuk memperoleh umur batuan, terutama sangat berkembang sejak tahun 1940-an. Apa yang dikatakan beberapa ayat dari berbagai bagian Al Qur’an dan Hadist mempunyai implikasi yang menarik. Informasi dari Al Qur’an menunjukkan rincian baik mengenai struktur bumi maupun mengenai gerakan lempeng kontinen. Dalam satu ayat, Al Qur’an menyatakan “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap” (QS. Al-Baqarah: 22 ).Hal-hal berikut yang ditunjukkan oleh ayat ini :
1)      lapisan atas bumi, atau kerak bumi, sama dengan suatu hamparan pelindung
2)      Lapisan atas bumi adalah relative tipis terhadap bagian dalam
3)      Demikian pula kerak bumi yang melindungi kehidupan dari panas didalam bumi
Dan dia menancapkan gunung-gunung dibumi,supaya bumi ini tidak goncang bersama kamu. Dan dia menciptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk” (QS. An- Nahl: 15) Ayat-ayat ini menunjukkan hal-hal berikut :
1)      Terdapat gerakan terus-menerus benua-benua
2)      Pembentukan gunung dikaitkan dengan gerakan ini
3)      Gunung distabilkan dengan turun kelapisan astenosfer
4)      Bahan plastis (lentur) terdapat dibawah kerak bumi, karena ia menjadi tidak stabil, tanpa efek menurun ( sinking effect )

Ayat-ayat ini memberikan indikasi mengenai struktur bumi dan gerakan lempeng tektonik.Kerak bumi dan karakteristik strukturnya. Pada abad ke 19 Ahli-ahli geologi tidak mempunyai teori yang koferhensif untuk menjelaskan proses ini, mengaitkannya dengan gerakan kontinen sampai paro terakhir abad kedua puluh.

Referensi:
Thayyarah, Nadiah.2013.Buku Pintar Sains Dalam Al Quran Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah. Jakarta: Zaman Press.
Haqqi, Abdurrahman.2010.Fungsi Gunung-Ganang Menurut Al Quran (sumber) (http://www2.bharian.com.my/bharian/articles/UlulAlbab_Fungsigunung-ganangmenurutal-Quran/Article/) (diakses 22 Oktober 2014, 19.23 WIB)
________.2010.Fungsi Gunung Api dalam Al Quran (sumber) (http://nuurislami.blogspot.com/2010/11/fungsi-gunung-dalam-al-quran.html/) (diakses 22 Oktober 2014, 19.33 WIB)
_________.2013.Sejarah Ilmu Bumi (Geologi). (sumber) (http://pengetahuangeologi.blogspot.com/2013_02_01_archive.html) (diakses 23 Oktober 2014, 19.52 WIB)
Selasa, 11 November 2014
Posted by Arriqo Arfaq

Bumi dan Beban Berat yang Dikandungnnya, Studi Surat Al-Zalzalah Ayat 2

Dalam ayat ke-2 surat Al-Zalzalah disebutkan,
Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.” Para ulama katakan bahwa ayat tersebut berarti bumi mengeluarkan mayit yang ada di dalamnya. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 9: 627).
Hal ini semisal dengan ayat,
Dan apabila bumi diratakan, dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al Insyiqaq: 3-4).
Ahmed Hassanein Hashad adalah Salah satu Profesor Geokimia di Arabian Geoscience Union ‎‎(ArabGU). Pada tahun 1952 beliau masuk Departemen Geologi di Universitas Kairo, dan mendapatkan gelar B.Sc. pada tahun 1957 di bidang Geokimia dengan predikat Cumlaude. Pa da Desember 1959, Beliau melanjutkan studi pascasarjana di Amerika Serikat yaitu di University of ‎Iota, Salt Lake City, Colorado. Beliau membuat studi rinci analisis microchemical sebagai bagian dari pekerjaan tesisnya sebelum menerima nya gelar Ph.D. dalam bidang geokimia nuklir pada ‎tahun 1964. Pada tahun 1983, Prof. Hashad pindah kembali ke Arab Saudi di mana ia menghabiskan sekitar sepuluh tahun sampai tahun 1992. Selama periode ini dia terlibat dalam sebuah proyek raksasa untuk mempelajari geokimia dan distribusi unsur-unsur radioaktif di ‎bagian utara Arab.
Menurut beliau, dalam konteks ayat ini (Al-Zalzalah:2) menilik kembali hasil riset panjang para ahli geosains (Geologi dan Geofisika). Berdasarkan data-data gempa bumi yang terbaca pada seismogram dapat diperoleh data emperis yang menghubungkan antara harga-harga waktu tempuh T dan jarak anguler ∆. Data-data ini telah dianalisis oleh beberapa ahli seismologi utnuk menentukan variasi kecepatan gelombang P dan gelombang S terhadap kedalaman ke pusat bumi.Interpretasi terhadap struktur kecepatan gelombang P di dalam bumi menunjukkan adanya diskontunuitas dan transisi kecepatan di dalam bumi.Secara seismik diskontunuitas ini didefenisikan sebagai perubahan kecepatan yang tajam.
A Mohorovicic menemukan sesuatu yang penting pada tahun 1909, ketika mendeteksi perbedaan gelombang P dan S dari kajian seismograf gempa local. Perbedaan ini diindikasikan oleh adanya perubahan yang jelas pada kecepatan gelombang tersebut setelah gelombang S menjalar dengan kecepatan yang lebih besar dan lebih bervariasi dibandingkan sebelum mencapai dataran.Dataran berhubungan dengan bidang batas yang boleh dikatakan tajam, dan dikenal dengan diskontunuitas Mohorovicic atau diskontunuitas M.
Gambar 1. Lintasan berkas seismik dan muka gelombang yang terjadi untuk penjalaran gelombang P dan S di dalam bumi (Sumber: https://nees.orgresources2751.png)



Tabel susunan bagian dalam bumi
LAPISAN
KEDALAMAN
VOLUME
MASSA
DENSITAS
(km)
109km3
%
1012 kg
%
gr/cm3
Kerak bumi
Mantel atas
Mantel bawah
Inti luar
Inti dalam
Perm.- moho
Moho – 1000
1000 – 2900
2900 – 5100
5100 – 6370
5,1
429,1
473,8
166,4
8,6
0,5
39,6
43,7
15,4
0,8
15
1673
2415
1743
125
0,3
28,0
40,4
29,2
2,1
2,94
3,90
5,10
10,50
14,53

Dari table tersebut kita dapat ambil kesimpulan bahwa, nilai densitas bertambah terhadap kedalaman bumi. Demikian juga harga tekanan dan temperatur, semakin kedalam nilainya semakin besar. Hal ini juga dipengaruhi oleh adanya gaya gravitasi yang menyebabkan unsur-unsur yang memiliki densitas tinggi berada di dalam bumi, misalnya inti bumi yang tersususn dari Nikel (Ni) dan Ferrum (Fe), kemudian dimantel bumi tersusun dari Besi, Magnesium, Ferromagnesium silikat. Sedangkan untuk kerak bumi, dibagi menjadi 2, kerak samudra yang tersusun dari Ferromagnesium dan Feldsfar, dan kerak benua tersusun dari besi, magnesium dan Aluminosilikat.Sehingga memang benar bahwa kandungan di dalam bumi merupakan material-material yang berat.“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (Atsqal).” (Al-Zalzalah: 1-2)
Kemudian yang dimaksud mengeluarkan beban berat jika kita kajih secara ilmiah adalah letusan gunungapi.Sebagian kecil letusan memiliki kekuatan yang sangat besar, begitu besar sehingga dapat memecah-belah gunung.Pada dasarnya, gunung berapi terbentuk dari magma, yaitu batuan cair yang terdalam di dalam bumi.Magma terbentuk akibat panasnya suhu di dalam interior bumi.Pada kedalaman tertentu, suhu panas ini sangat tinggi sehingga mampu melelehkan batu-batuan di dalam bumi.Sebagian besar magma terbentuk pada kedalaman 60 hingga 160 km di bawah permukaan bumi.Sebagian lainnya terbentuk pada kedalaman 24 hingga 48 kmMagma yang mengandung gas, sedikit demi sedikit naik ke permukaan karena massanya yang lebih ringan dibanding batu-batuan padat di sekelilingnya.Saat magma naik, magma tersebut melelehkan batu-batuan di dekatnya sehingga terbentuklah kabin yang besar pada kedalaman sekitar 3 km dari permukaan.
Material yang dikeluarkan ketika letusan gunungapi berupa lava yang berasala dari magma yang naik ke permukaan, dari penjelsan sebelumnya telah dijelaskan bahwa magma terbentuk dari lelehan batuan yang terjadi di batas antara kerak bumi dan mantel bumi atau 100-200 kilometer dari permukaan.Pada gunungapi dengan tipe letusan eksplosif, material-materil yang keluar dari gunungapi ketika erupsi berupa material piroklastik dan batuan beku penyusun tubuh gunungapi. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
 “Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS.Al-Qori’ah : 5)
Ayat serupa dalam surat lain,
 “Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.” (QS. Al-Haqqah: 14)
Gambar 2. Erupsi gunungapi yang menghancurkan setengah tubuh gunung.
Sumber: BBC 10 Things You Didn't Know About Volcanoes

Mahabenar Allah atas segala firmannya, bukti-bukti penemuan ilmiah modern ini sejalan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan pada Nabi Muhammad sekitar 14 abad yang lalu, dimasa ketika kebodohan dan keterbelakangan masih dominan.
Dari fenomena alam erupsi guungapi kita data mengambil pelajaran yang berharga, bahwa kejadian ketika hari kiamat kelak akan lebih hebat atau dahsyat dari semua ini, fenomena ini merupakan peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa, Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, kita sebagai hambanya harus mematuhi segala perintahnya dan menjahui larangannya dan takut akan siksa di hari kiamat kelak, sehingga dengan itu akan dapat menumbuhkan keimanan kita, keimanan dalam beribadah dan keimanan bahwa Rasulullah adalah benar-benar utusan Allah, Al-Qur’an adalah kalam Allah yang turunkan kepada Rasulullah Shallahu ‘Alahi wa Sallam.

Referensi:
_________.2012. Al-Quran dan Terjemahannya Per-Kata. Bandung: Gema Insani Press.

Thayyarah, Nadiah.2013.Buku Pintar Sains Dalam Al Quran Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah. Jakarta: Zaman Press.
Puspito, Nanang T.1996.Struktur Kecepatan Gelombang Gempa Dan Koreksi Stasiun Seismologi Di Indonesia.Paper. Bandung: Jurusan Geofisika dan Meteorologi, FMIPA – ITB
Posted by Arriqo Arfaq

Krisis Energi di Indonesia dan Solusinya

Krisis energi telah terjadi pada zaman ini, hal ini terjadi di Negara maju maupun Negara berkembang, beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya krisis energi diantaranya adalah tingginya populasi penduduk, Penduduk Indonesia pada tahun 2014 menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) diperkirakan mencapai 240 jutajiwa, laju pertumbuhan penduduk (LPP) mencapai 1,49 persen per tahun, dengan meningkatnya populasi penduduk ini, tentu kebutuhan akan energi semakin meningkat. Selain tingginya populasi penduduk, meningkatnya sektor industri juga menyebabkan terjadinya krisis energi, hal ini disebabkan karena industri adalah sektor yang paling besar dalam konsumsi energi.
Sumber: http://apakabarsidimpuan.com/
Perlu disadari pula bahwa potensi minyak Indonesia hanya 0,3 % dari potensi dunia. Sedangkan gas bumi hanya sekitar 1,7 %. Data dari SKKMigas menyebutkan potensi minyak di Indonesia adalah 321 miliar barel dimana produksi pertahunnya 300 juta barel sehingga diperkirakan jika tidak ditemukan cadangan lagi maka minyak bumi akan habis dalam 12 tahun lagi,  sementara potensi gas bumi di Inonesia sebanyak 507 TSCF dengan produksi per tahunnya 2,7 TSCF sehingga diperkirakan gas bumi akan habis dalam 44 tahun lagi jika tidak ditemukan cadangan lagi.

Disisi lain kebutuhan energi Indonesia naik sekitar 7 % per tahun, sehingga pada tahun 2025 dibutuhkan tambahan energi 180% dari sekarang. melihat fakta ini, perlu ada solusi nyata untuk menjaga ketahanan dan kemandirian energi di masa depan. Jika tidak, Indonesia akan sangat tergantung pada pihak lain dalam memenuhi kebutuhan energi domestik. Konservasi dan disversifikasi energi diperlukan sebagai solusi dalam ketahanan energi nasional, dengan melakukan konservasi energi kita dapat menghemat energi sebesar 5%-30%. (Departemen pertambangan dan energi, 1986).

Indonesia sebenarnya masih mempunyai cadangan batubara sebesar 57,8 miliar tahun dengan produksi pertahunnya 132 juta ton sehingga akan habis dalam 146 tahun lagi, tetapi pemakaian batubara kurang disukai karena tingkat polusinya lebih tinggi. Itulah mengapa Indonesia butuh sumber energi lain di luar energi fosil yang selama ini banyak dimanfaatkan.

Salah satu solusi dalam menghadapi krisis energi adalah dengan konservasi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG), dari data yang dijelaskan diatas, saat ini Indonesia memproduksi gas kurang lebih 2,7 triliun kaki kubik per hari, dimana sebagian besar diekspor karena tatanan kebijakan selama ini pemerintah lebih focus pada upaya memenuhi pasar internasional, bahkan lebih dari dua decade Indonesia menjadi Negara pemasok utama gas ke Negara-negara seperti Jepang, Korea dan lainnya.

Menurut Aman Mostman, salah satu dosen di teknik Fisika ITB, penggunaan Gas Bumi lebih murah, dan juga lebih ramah lingkungan dan lebih efisien 10-30 persen apabila digunakan sebagai energi alternatif, gas bumi juga lebih ekonomis dibandingkan minyak, harga BBM per MMBTU ( Million Metric British Thermal Unit) sebesar 24 dolar AS, sedangkan gas bumi berkisar 13 dolar AS per MMBTU. Hal ini menjadi ironi di Indonesia, dimana masyarakat menggunakan bahan bakar minyak yang harganya mahal sedangkan gas bumi yang harganya relatif murah malah dinikmati oleh orang dari negera lain.

Solusi lain adalah dengan mengembangkan dan menggunakan bahan bakar hidrokarbon non konvensional, disebut non konvensional karena keberadaan resource-nya di alam dan beberapa sifat fisiknya berbeda dengan minyak dan gas konvensional yang ada.  Ada berbagai macam hidrokarbon non konvensional diantaranya coal bed methane (CBM) / gas metana batubara (GMB), shale gas, shale oil, tight gas, tight oil, gas hydrate, sour gas (gas dengan kandungan Hidrogen Sulfida /H2S), disini hanya akan dibahas mengenai coal bed methane(CBM) atau gas metana batu bara dan shale gas karena keduanya baru dikembangkan di Indonesia.

GMB dikenal sebagai sumber energi ramah lingkungan, dimana gas metana merupakan komponen utamanya yang terjadi secara alamiah dalam proses pembentukan batubara (coalifi cation). GMB hampir sama dengan gas bumi pada umumnya bedanya, GMB terbentuk dan tersimpan dalam batubara yang berfungsi sebagai reservoir dan batuan sumber (source rock). Shale gas adalah gas alam yang dihasilkan dan terperangkap dari serpih yang biasanya berfungsi ganda sebagai reservoar dan sumber untuk gas alam atau gas bumi. Serpih ini umumnya berasal dari fasies lumpur laut dangkal.

GMB di Indonesia sudah masuk dalam tahap produksi, potensi cadangan gas metana batubara di Indonesia diperkirakan mencapai 453 triliun kaki kubik. Data ini mendorong peningkatan program eksplorasi gas metana batubara di Indonesia. Pada tahun 2008 terdapat 54 wilayah kerja (WK), dan pada tahun 2013 sudah terdapat 54 WK. Berdasarkan roadmap SKKMigas, produksi gas metana batubara pada tahun 2015 ditargetkan mencapai 500 juta kaki kubik per hari dan naik menjadi 1 miliar juta kaki per hari pada tahun 2020. Sedangkan Shale gas di Indonesia belum dikembangkan secara optimal sebagai sumber energi alternatif. Tahapan yang sedang dilakukan sampai saat ini adalah studi potensi sumberdaya. Penelitian yang dilakukan dibagi dalam dua katagori yakni penelitian potensi sumberdaya  shale gassecara regional dan yang lain difokuskan pada evaluasi lahan yang lebih sempit.

Selain itu solusi lain yaitu dengan mengembangkan energi terbarukan (Renewable Energi), salah satunya adalah panas bumi (Geothermal), posisi geografis Indonesia yang terletak di pertemuan 3 lempeng utama dunia mengakibatkan banyaknya terbentuk gunungapi di wilayah Indonesia, sehingga indonesia mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan panas bumi atau geothermal karena sumber geothermal di asosiasikan dengan terbentuknya gunungapi, potensi panas bumi Indonesia mencapai 28.543 MW atau sekitar 40% dari potensi dunia, namun saat ini masih 1.189 MW yang sudah dikembangkan atau sekitar 4 % dari total keseluruhan.


Kesimpulannya, kebutuhan akan energi semakin tahun semakin meningkat, kebutuhan energi sangat tergantung pada migas, disisi lain produksi migas semakin menurun sehingga menyebabkan terjadinya krisis energi,  disversifikasi energi diperlukan sebagai solusi untuk menyelesaikan permasalahan krisis energi, diantaranya konversi BBM ke BBG, mengembangkan hidrokarbon non konvensional, dan mengembangkan energi terbarukan khususnya energi panas bumi (geothermal).
Posted by Arriqo Arfaq

Erupsi Gunung Merapi

          Gunung Merapi (ketinggian puncak 2.968 m dpl, per 2006) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.

Gambar 1: Erupsi gunung Merapi
Sumber : http://img2.bisnis.com/batam/posts/2013/07/03/23623/gunung-merapi-fdeztianz.blogspot-com.jpg

        Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali (http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merapi)
       Erupsi adalah peristiwa keluarnya magma di permukaan bumi bisa dalam bentuk yang berbeda-beda untuk setiap gunungapi. Erupsi bisa efusif yaitu lava keluar secara perlahan dan mengalir tanpa diikuti dengan suatu ledakan atau eksplosif yaitu magma keluar dari gunungapi dalam bentuk ledakan. Dalam erupsi yang eksplosif, terbentuk endapan piroklastik, sedang dalam erupsi efusif terbentuk aliran lava. Terdapat berbagai macam letusan (erupsi) gunungapi sepeerti: Hawaii, Stromboli, Vulkano, Palee, Plinian (Perret), Vincent.
       Gunung Merapi memiliki jenis letusan yang berbeda dengan gunungapi lainnya, letusan gunung Merapi memiliki karakteristik tertentu. Ciri khasnya memiliki lava kental yang menyumbat dimulut lava. Sumbatan ini berpotensi bahaya karena menaikkan tekanan gas. Tekanan gas menjadi semakin bertambah kuat dan memecahkan sumbatan lava. Sumbatan yang pecah-pecah terdorong ke atas dan akhirnya terlempar keluar. Material ini menuruni lereng gunung sebagai ladu atau gloedlawine. Selain itu, terjadi pula awan panas (gloedwolk) atau sering disebut wedhus gembel. Letusan tipe merapi sangat berbahaya bagi penduduk di sekitarnya. Tipe yang berbeda ini sering dikasifikasikan tersendiri atau disebut Tipe erupsi merapi.
       Tetapi sebenarnya tipe erupsi Merapi mirip dengan tipe vulkanik, tipe Vulkanik merupakan Erupsi bersifat eksplosif dengan tingkat eksplosivitas dari lemah ke katastropik. Magma yang membentuk erupsi tipe vulkanian bersifat antara basa dan asam (dari andesit ke dasit). Erupsi vulkanian terjad karena lobang kepundan tertutup oleh sumbat lava atau magma yang membeku di pipa magma setelah kejadian erupsi. Diperlukan suatu akumulasi tekanan yang relatif besar untuk membuka lobang kepundan atau menghancurkan sumbat lava. Erupsi melontarkan material hancuran dari puncak gunungap tapi juga material baru dari magma yang keluar. Salah satu ciri dari erupsi vulkanian yaitu adanya asap erupsi yang membumbung tinggi ke atas dan kemudian asap tersebut melebar menyerupai cendawan. Asap erupsi membawa abu dan pasir yang kemudian akan turun sebagai hujan abu dan pasir. Pada gunung Merapi terdapat peranan kubah lava dalam tiap-tiap erupsinya sehingga lebih tepatnya Gunung Merapi dimasukkan dalam tipe vukanik lemah, karena magma merapi terbentuk pada dapur magma yang dangkal bukan seperti tipe vulkanik dimana magma terbentuk pada dapur magama yang dalam sehingga letusannya tidak sedahsat tipe vulkanik.

Gambar 2: Aktivitas tambang di Kali Putih i
Sumber : http://img.lensaindonesia.com/thumb/350-630-1/uploads--1--2011--12--PenambanganPasirMerapi.jpg

      Dari erupsi Merapi tersebut menghasilakan berbagai macam material-material diantaranya aliran Lava, Awan Panas, dan Endapan Piroklastik. Awan panas atau sering disebut wedhus gembel banyak membawa material abu kasar (Coarse Ash) dan abu halus (Fine ash), sedangkan untuk endapan piroklastik berupa Angglomerate yang banyak ditemukan di Kali Putih di desa Cangkringan dan sekitarnya, selain itu juga banyak dijumpai tefra lapilli, sedangkan untuk lapilli stone terendapkan jauh dibawah lereng Merapi. Sekarang di Kali Putih menjadi tambang bagi masyarakat disekitar.



Referensi:
BPPTKG. (…….) Karakteristik Merapi [Internet]. Tersedia di: <  http://www.merapi.bgl.esdm.go.id/informasi_merapi.php?page=informasi-merapi&subpage=karakteristik> [Diakses 16 oktober 2014]
Anonim. (2014) Gunung Merapi [Internet]. Tersedia di: < http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merapi > [Diakses 16 oktober 2014]

Kamis, 16 Oktober 2014
Posted by Arriqo Arfaq

Macam-Macam Batuan Piroklastik

         Batuan piroklastik atau pyroclastics (berasal dari bahasa Yunani πῦρ, yang berarti api; dan κλαστός, yang berarti rusak) merupakan bagian dari batuan volkanik. Batuan fragmental yang secara khusus terbentuk oleh proses volkanik eksplosif (letusan). Berikut ini akan dijelaskan beberapa deskripsi batuan Piroklastik seperti Skoria, Pumice, Tuff, Lapilli, dll.

1. Pumice
        Batuan Pumice yang memiliki kenampakan warna yaitu coklat kemerahan, struktur batuannya massive, sifat batuannya ialah asam, derajat kristalisasinya holohyalin dimana komposisi mineral penyusunnya mayoritas adalah glass, tekstur pada batuan pumice ialah glassy dengan ukuran batuannya ialah Bomb (d > 64 mm). Sedangkan bentuk dari pumice ialah glassy. Petrogenesa dari batuan pumice ialah terbentuk dari batuan asam yang terbetuk dari letusan gunung api. Pumice sering disebut batuapung.
Gambar 1. Pumice
         Batuan ini terbentuk dari magma asam oleh aksi letusan gunungapi yang mengeluarkan materialnya ke udara, kemudian mengalami transportasi secara horizontal dan terakumulasi sebagai batuan piroklastik. Batu apung mempunyai sifat vesicular yang tinggi, mengandung jumlah sel yang banyak (berstruktur selular) akibat ekspansi buih gas alam yang terkandung di dalamnya, dan pada umumnya terdapat sebagai bahan lepas atau fragmen-fragmen dalam breksi gunungapi. Sedangkan mineral-mineral yang terdapat dalam Pumice adalah feldspar, kuarsa, obsidian, kristobalit, dan tridimit. Jenis batuan lainnya yang memiliki struktur fisika dan asal terbentuknya sama dengan Pumice adalah pumicit, volkanik cinter, dan scoria.
         Didasarkan pada cara pembentukan, distribusi ukuran partikel (fragmen), dan material asalnya, Pumice diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu: sub-areal, sub-aqueous, new ardante, dan hasil endapan ulang (redeposit).
          Sifat kimia dan fisika batu apung antara lain, yaitu: mengandung oksida SiO2, Al2O3, Fe2O3, Na2O, K2O, MgO, CaO, TiO2, SO3, dan Cl, hilang pijar (Loss of Ignition) 6%, pH 5, bobot isi ruah 480 – 960 kg/cm3, peresapan air (water absorption) 16,67%, berat jenis 0,8 gr/cm3, hantaran suara (sound transmission) rendah, rasio kuat tekan terhadap beban tinggi, konduktifitas panas (thermal conductivity) rendah, dan ketahanan terhadap api sampai dengan 6 jam.
           Keterdapatan Pumice selalu berkaitan dengan rangkaian gunungapi berumur Kuarter sampai Tersier. Penyebaran meliputi daerah Serang, Sukabumi, Pulau Lombok, dan Pulau Ternate.
Pemanfaatna batuan Pumice adalah sebagai bahan baku pembuatan agregat ringan dan beton agregat ringan, hal ini disebabkan karena sifat batuan Pumice ringan, kedap suara, mudah dibentuk atau dipahat menjadi blok-blok yang berukuran besar, sehingga dapat mengurangi pelesteran. Selain itu, Pumice juga tahan terhadap api, kondensi, jamur dan panas, serta cocok untuk akustik. Dalam sektor industri lain, Pumice digunakan sebagai bahan pengisi (filler), pemoles/penggosok (polishing), pembersih (cleaner), stonewashing, abrasif, isolator temperatur tinggi dan lain-lain.
            Properties Pumice terdiri dari piroklastik kaca yang sangat microvesicular dengan sangat tipis, tembus dinding-dinding gelembung extrusive batu beku. Hal ini umumnya, tetapi tidak secara eksklusif dari felsic untuk silicic atau penengah dalam komposisi (misalnya, rhyolitic, dasit, andesit, pantellerite, phonolite, trachyte), tetapi komposisi basaltik dan lain diketahui. Pumice umumnya berwarna cerah, mulai dari putih, krem, biru atau abu-abu, atau hijau-cokelat. Batu apung adalah produk umum letusan bahan peledak (Plinian dan ignimbrite-membentuk) dan umumnya membentuk zona-zona di bagian atas silicic lavas.

2. Scoria
        Scoria adalah sebuah bebatuan vulkanik. Nama lama Scoria adalah cinder. Scoria diproduksi oleh fragmentasi aliran lava. Kubah vulkanik scoria dapat ditinggalkan setelah letusan, biasanya membentuk gunung dengan kawah di puncaknya. Contohnya Gunung Wellington, Auckland di Selandia Baru yang seperti gunung Three Kings di selatan kota yang sama.
Gambar 2. Scoria
        Batuan scoria, yang memiliki kenampakan warna yaitu kecokelatan dan kemerahan, sifat batuan dari scoria yaitu basa, struktur batuannya vesikuler, dan derajat kristalisasinya holohyalin dimana komposisi mineral penyusunnya mayoritas adalah glass, tekstur pada scoria ialah glassy dengan ukuran batuannya ialah bomb (d>64 mm). Sadangkan bentuk dari scoria ialah masa dasar glass. Scoria terbentuk dari batuan piroklastik lava yang dikeluarkan dari gunung berapi.
        Scoria adalah jenis batuan tekstur dan bukan batu yang diklasifikasikan oleh mineralogi atau kimia. Terbentuk dari lava yang kaya volatiles atau gas tetapi kurang kental dari lava membentuk batu apung. Ketika batuan cair meningkat dalam pipa vulkanik, gas mulai terbentuk dan mengumpulkan dan gas-gas yang membentuk gelembung besar dalam lava. Batu adalah Scoria. Meskipun ruang terbuka di dapat Scoria batu besar umumnya lebih berat daripada air yang tidak seperti kebanyakan batu apung bisa mengapung di atas air.
        Terbentuk dari batuan piroklastik lava yang dikeluarkan dari gunung berapi. Scoria yang juga dikenal sebagai abu, merupakan komponen utama cinder cone. Sebuah kerucut cinder adalah kecil tetapi tipe gunung berapi yang sangat umum. Cinder cone juga telah disebut Scoria cones. Cinder cone jarang tumbuh sangat besar, tetapi kadang-kadang bentuk yang sangat simetris bukit-bukit berbentuk kerucut. Scoria tidak memiliki banyak kegunaan. Bahkan nama ini berasal dari sebuah istilah untuk sampah. Namun dapat digunakan sebagai batu hias yang menarik dengan warna kemerahan. Sebagian besar patung-patung Pulau Paskah disebut Moai telah Scoria batu dalam desain mereka.
          Petrogenesa batuan ini adalah ketika terjadi peningkatan tekanan magma, gas terlarut dapat exsolve dan membentuk vesikula. Beberapa vesikula terjebak ketika magma membeku. Biasanya vesikula kecil, bulat dan tidak menimpa satu sama lain. Kerucut vulkanik Scoria dapat ditinggalkan setelah letusan, biasanya membentuk gunung dengan kawah di puncak. Contoh adalah Gunung Wellington, Auckland di Selandia Baru, yang seperti Three Kings di selatan kota yang sama telah banyak digali. Quincan, bentuk unik Scoria, yang digali di Gunung Quincan di Far North Queensland, Australia. Pertambangan di Puna Pau on Rapa Nui / Pulau Paskah adalah sumber Scoria berwarna merah yang digunakan orang rapanui mengukir patung-patung Moai khas mereka.

3. TUFF
          Tuff (dari bahasa Italia "tufo") adalah jenis batu yang terdiri dari konsolidasi abu vulkanik yang dikeluarkan dari lubang ventilasi selama letusan gunung berapi. Tuff kadang-kadang disebut tufa, terutama bila digunakan sebagai bahan bangunan, meskipun tufa juga mengacu pada batu yang sangat berbeda.
Gambar 3. Tuff
           Batu Tuff yang memiliki kenampakan warna yaitu putih terang, struktur batuannya berlapis, derajat kristalisasinya holohyalin dimana komposisi mineral penyusunnya mayoritas adalah glass, tekstur pada batuan tuff ialah fragmental dengan ukuran batuannya ialah ash / abu (d < 2 mm). Sedangkan bentuk dari tuff ialah fragmental. Petrogenesa dari batuan terbentuk dari hasil letusan gunung api dan kemudian diendapkan.
            Produk dari letusan gunung berapi adalah gas vulkanik, lava, uap, dan tephra. Magma meledak ketika berinteraksi hebat dengan gas vulkanik dan uap. Bahan padat diproduksi dan dilemparkan ke udara oleh letusan gunung berapi seperti disebut tephra, terlepas dari komposisi atau ukuran fragmen. Jika potongan-potongan yang dihasilkan letusan cukup kecil, materi ini disebut abu vulkanik, yang didefinisikan sebagai partikel-partikel seperti kurang dari 2 mm dengan diameter, berukuran pasir atau lebih kecil.


4. Lapili Stone
         Lapili stone (Lapili) yang memiliki kenampakan warna yaitu hitam, struktur batuannya massive, dan derajat kristalisasinya hipokristalin dimana komposisi mineral penyusunnya mayoritas adalah glass dan kristal, tekstur pada lapili stone ialah fragmental dengan ukuran batuannya ialah lapili (2-64 mm). Sedangkan bentuk dari lapili stone ialah fragmental. Petrogenesa dari lapili stone ini ialah terbentuk didalam permukaan, tetapi mineral ada yang belum membentuk kristal yang utuh. Lapili stone memilki komposisi mineral dalam batuannya, mineralnya ialah plagioklas dan hornblende (amphibol).
          Sebuah partikel piroklastik lebih besar dari lapili dikenal sebagai bom vulkanik ketika cair, atau blok vulkanik ketika padat, sementara partikel yang lebih kecil daripada lapili disebut sebagai abu vulkanik. Lapili dapat masih belum benar-benar membeku ketika mendarat, sehingga tidak memiliki bentuk khusus (Unconsolidated)
Gambar 4. Lapili

5. Obsidian
        Obsidian yang memiliki kenampakan warna yaitu hitam mengkilat, struktur batuannya massive, derajat kristalisasinya holohyalin dimana komposisi mineral penyusunnya mayoritas adalah glass, tekstur pada batuan tuff ialah glassy dengan ukuran batuannya ialah Bomb (d= 2 - 64 mm). Petrogenesa dari batuan terbentuk secara rapidly sehingga tidak sempat membuntuk kristal.
Obsidian adalah batu beku extrusive terbentuk ketika lava felsic meletus dari sebuah gunung berapi dan mendinginkan terlalu cepat untuk memungkinkan kristal untuk membentuk, mengakibatkan kaca. Obsidian berkisar dalam warna dari hijau menjadi jelas paling sering hitam. Obsidian biasanya 70% atau lebih SiO2 dan komposisinya mirip granit atau rhyolite. Obsidian mineral terdiri dari SiO2 relatif murni (sama seperti kuarsa), tapi tentu saja adalah non-kristalin kaca.
       Obsidian adalah kaca vulkanik yang terjadi secara alami terbentuk sebagai sebuah batu beku ekstrusif. Hal ini dihasilkan ketika ekstrusi felsic lava dari gunung berapi mendingin tanpa pembentukan kristal. Obsidian umumnya ditemukan di dalam batas-batas aliran lava. Rhyolitic dikenal sebagai obsidian mengalir, di mana komposisi kimia (kandungan silika tinggi) menginduksi viskositas tinggi dan derajat polimerisasi lava. Atom yang inhibisi difusi melalui ini sangat kental dan polimerisasi lava menjelaskan kurangnya pertumbuhan kristal. Karena kurangnya struktur kristal, tepi bilah obsidian bisa mencapai hampir molekul kurus, yang menyebabkan kuno digunakan sebagai proyektil poin, dan modern yang digunakan sebagai pisau bedah pisau bedah.
Gambar 5. Obsidian
        Obsidian adalah mineral, tetapi tidak mineral sejati karena sebagai kaca tidak kristalin; di samping itu, komposisi terlalu rumit untuk membentuk satu mineral. Kadang-kadang diklasifikasikan sebagai mineraloid. Meskipun obsidian berwarna gelap mirip dengan batu mafic seperti basalt, obsidian komposisi sangat asam. Obsidian terdiri dari SiO2 (silikon dioksida), biasanya 70% atau lebih. Batu kristal dengan komposisi obsidian termasuk granit dan rhyolite. Obsidian memiliki kadar air rendah ketika segar, biasanya kurang dari 1% air berdasarkan berat, tetapi menjadi semakin kering saat terkena air bawah tanah, membentuk perlite.
         Obsidian biasanya gelap dalam penampilan, meskipun warna bervariasi tergantung pada kehadiran pengotor. Besi dan magnesium biasanya memberikan obsidian hijau tua menjadi cokelat ke warna hitam. Sangat sedikit sampel hampir tidak berwarna. Dalam beberapa batu, dimasukkannya kecil, putih, kristal berkumpul radial kristobalit di kaca hitam menghasilkan jerawat atau pola kepingan salju (kepingan salju obsidian). Pola-pola tersebut mungkin juga mengandung gelembung gas yang tersisa dari aliran lava, sejajar sepanjang lapisan diciptakan sebagai batuan cair mengalir sebelum didinginkan. Gelembung ini dapat menghasilkan efek yang menarik seperti emas kemilau (kilau obsidian) atakilau pelangi (rainbow obsidian).

Referensi:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. (2005) Batu Apung (Pumice). [Internet]. Tersedia di: < http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Batuapung/ulasan.asp?xdir=Batuapung&commId=3&comm=Batu%20apung%20(pumice)> [Diakses 16 oktober 2014]
Anonim. (2013) Scoria [Internet]. Tersedia di: < http://id.wikipedia.org/wiki/Scoria> [Diakses 16 oktober 2014]
Anonim. (2013) Lapili [Internet]. Tersedia di: < http://id.wikipedia.org/wiki/Lapili> [Diakses 16 oktober 2014]
Anonim. (2013) Obsidian [Internet]. Tersedia di: < http://id.wikipedia.org/wiki/Obsidian> [Diakses 16 oktober 2014]
Soscilla. (2009) Batu Obsidian [Internet]. Tersedia di: <
http://elevenmillion.blogspot.com/2009/08/batu-obsidian.htmln> [Diakses 16 oktober 2014]
Hobart King. (…..) Tuff [Internet]. Tersedia di: < http://geology.com/rocks/tuff.shtml> [Diakses 16 oktober 2014]
Hobart King. (…..) Scoria [Internet]. Tersedia di: < http://geology.com/rocks/scoria.shtml> [Diakses 16 oktober 2014]
Hobart King. (…..) Pumice [Internet]. Tersedia di: < http://geology.com/rocks/pumice.shtml> [Diakses 16 oktober 2014]
Hobart King. (…..) Obsidian [Internet]. Tersedia di: < http://geology.com/rocks/obsidian.shtml> [Diakses 16 oktober 2014]

Posted by Arriqo Arfaq

BRENT Crude Oil

Gold Price

Popular Post

Blogger templates

Date

- Copyright © Young Geoscience -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -